|
| Alexandria Netcafe |
| Alexandria Bookcafe |
| Wedangan Hotspot |
| Trik & Tutorial |
| My Gallery |
| Hardware |
| Software |
|
| KAMI MELAYANI |
- Akses Internet
- Print - Ketik
- Cetak Foto
- Jual - Beli Comp
- Service Comp
- Desain & Setting
- Desain Presentasi
- Accesoris Comp
- Pulsa Handphone
- Wedangan Hotspot
- Rental Buku, Novel, Komik & Majalah
- Rental Film Drama Korea, Jepang & Anime
|
| MY MUSIC TODAY |

Free Music
|
VISITOR ID :
|
|
| OUR LINK |
| |
| CONTACT US |
Untuk segala saran, dan keluhan mengenai pelayanan kami, bisa dikirim via email ke :
ary_ghallagher@yahoo.com |
|
| Pak Tani versus Ekspansi Kapitalis |
| Thursday, January 17, 2008 |
| Sudah 63 tahun bangsa ini menyatakan dirinya lepas dari penjajahan setelah Ir. Soekarno mengumandangkan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tapi apakah cita-cita para pejuang bangsa ini telah tercapai hingga kini. Apakah secara mutlak kita telah merdeka. Secara substansial kita telah menjadi bangsa yang merdeka.Tapi coba kita lihat dari sisi politik, ekonomi, sosial, bahkan budaya (ex: kasus klaim malaysia terhadap angklung, reog ponorogo dan lagu rasa sayange).
Negeri ini konon negeri kaum petani yang ulet dan gigih dalam bertaninya. Dan kita mengalami masa kejayaan di bidang pangan pada tahun 80-an ketika FAO memberikan penghargaan kepada pemimpin negeri ini karena telah sukses dengan swasembada pangannya. Tapi tengoklah sekarang....., harga bahan kebutuhan pokok makin melambung tinggi, negeri yang kaya akan sumber daya justru terpuruk. Lihatlah kasus beras, ketika petani panen raya, tapi harga mereka kalah bersaing dengan beras vietman yang ternyata lebih murah dari kita. Sehingga petani tidak bisa menjual beras mereka dengan harga yang layak dan akhirnya jusru merugi. Petani akhirnya malas bertani karena biaya untuk bercocok tanam jauh lebih mahal dibanding nilai jual hasil taninya. Inilah yang membuat para kaum urban berbondong-bondong ke kota hanya untuk mencoba mencari keberuntungan. Selain itu lahan pertanian banyak ditinggalkan oleh mereka hanya untuk mencari ringgit yang membuat mereka silau. Negeri ini terlalu lama dininabobokan dengan selalu dimanjakan oleh kaum ekonom kapitalis dari luar. Dengan dalih harga lebih murah pemerintah makin lunak dalam hal impor pangan. Ini malah membuat kaum petani makin malas karena tidak adanya perlindungan usaha. Dan lahan mereka diubah menjadi besi-besi beton yang mencengkram bumi yang berdalih menambah pendapatan daerah ternyata hanya untuk memuaskan cukong berkantong tebal.
Kini setelah kaum kapitalis merasa telah memonopoli sektor pangan kita, mereka akhirnya menarik umpan kail mereka dan menjaring pundi-pundi rupiah kita dengan jala-jala yang besarnya. Dengan tidak pandang bulu mereka pun menaikan harga-harga pangannya. Stockpun makin terbatas karena kita tidak mampu lagi membelinya. Lihatlah kasus kedelai yang sedang ramai, harga bisa melambung hingga 150% karena bangsa Indonesia hanya mampu memenuhi 40% kebutuhan kedelai negeri ini sisanya dari impor, khususnya negeri Amerika. Ini yang membuat kita menjadi ketergantungan oleh kapitalis luar. Home industri yang biasa mengolah tahu-tempe pun kelabakan dan mereka akhirnya menyatakan berhenti berproduksi karena harga kedelai melambung tinggil. Masyarakat umum pun menjadi imbasnya, mereka yang biasa mengkonsumsi tahu-tempe karena murah dan banyak protein kini semakin sulit untuk bisa mengkonsumsi lagi. Lalu bagaimanakan dengan bahan pokok lainnya? Akankah gandum juga mengalami nasib yang sama?
Kemana sajakan pemerintah dalam hal ini. Apakah karena sudah penuh kepala mereka oleh permasalahan negeri ini yang komplek sehingga mereka akan lupa masalah “tempe-tahu” yang merupakan kebutuhan pokok negeri ini. Kami pilih kalian tidak untuk hanya sekedar baca koran pada kursi kenikmatan di Senayan sana. Wakil rakyat ayo putar otak kalian. Kami tidak butuk suara merdu kalian yang kan meninabobokan kami. Kami hanya ingin tindakan nyata yang kan bawa negeri ini. Menjadi lebih baik tentunya....(Ary G). |
| posted by Ary Ghallagher @ 8:56 PM |
|
|
|
| Bahaya Ponsel |
| Sunday, January 13, 2008 |
| Anak muda Jepang masa kini makin tak bisa melepaskan diri dari ponsel. Menurut survei pemerintah Jepang, sepertiga anak Sekolah Dasar berusia 7-12 tahun sudah memakai ponsel. Di Sekolah Tinggi, presentase pemakai ponsel bahkan melonjak sampai 96 persen.
Meski keberadaan ponsel tersebut membawa banyak manfaat, para pakar mengemukakan bahwa ketergantungan anak pada ponsel mengandung resiko. Resiko ini seperti pelecehan seksual ataupun fenomena anak-anak jadi sukar bersosialisasi secara langsung, muka dengan muka.
"Anak-anak mengemukakan bahwa hal yang paling penting selain hidup mereka adalah ponsel. Mereka mengutak-atik ponsel di manapun berada. Padahal ponsel membawa bahaya," ungkap Masashi Yasukawa, kepala lembaga National Web Counseling Council. Hideki Nakagawa, Profesor Sosiologi di Nihon University di lain pihak mengatakan bahwa ponsel telah jadi semacam obsesi kaum muda Jepang. Tanpa ponsel, mereka merasa tak nyaman. Padahal jika tidak waspada, ponsel berpotensi membahayakan anak-anak Jepang ini.
Misalnya, ponsel bisa membuat anak belajar jadi pelaku pelecehan dengan mengolok-olok teman via SMS tanpa memikirkan konsekuensinya. Mereka juga bisa tanpa sengaja menunjukkan informasi diri pada orang yang berniat jahat seperti kaum paedofil. Selain itu, orang tua juga kena batunya karena pengeluaran untuk pulsa anak-anak mereka makin melonjak. |
| posted by Ary Ghallagher @ 10:23 AM |
|
|
|
|
| 1st Launch 18th May 2009 |
|
Location : Tegal - Indonesia
Facility :
- Extra Bass Headset
- Free Webcam
- Free Large Parking Area
- Minicafe
- Waiting Room
- Free drink and caffe
- Friendly Operator
|
| LEAVE COMMENT HERE |
ShoutMix chat widget
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| SUPPORTED BY |
 |
|